Triple Helix, Strategi Toyota Indonesia Wujudkan Ekosistem Mobil Listrik yang Ramah Lingkungan
Adit · 26 Mei, 2022 12:01
0
0
Toyota berkolaborasi dengan pemerintah dan perguruan tinggi membentuk triple helix.
Hal ini dilakukan berkenaan dengan komitmen Toyota mewujudkan netralitas karbon dari kendaraan bermotor.
Di Indonesia, wujud nyata ini akan diterapkan dengan produk kendaraan listrik Toyota xEV
Toyota terus berkomitmen untuk mewujudkan net zero emission atau nol bersih emisi, tak terkecuali di Indonesia. Hal ini sejalan dengan tantangan global demi keberlangsungan hidup dengan lingkungan yang lebih bersih.
Oleh karena itu, CEO Toyota Motor Corporation (TMC) Akio Toyoda juga ingin mewujudkan netralitas karbon bersih pada 2050 dengan seluruh kendaraan beralih ke kendaraan listrik. "Dalam mencapai itu, musuhnya adalah karbondioksida, bukan pembakaran internal," katamya.
Toyota Kijang Innova EV bakal menjadi mobil listrik yang diproduksi di Indonesia
Kendaraan listrik yang dimaksud bukan serta-merta mobil listrik yang membutuhkan pasokan daya dari baterai. Teknologinya lebih luas lagi namun tetap konsep utamanya adalah electric vehicle (EV), sehingga pabrikan menamainya sebagai xEV, yang terdiri dari baterai EV, hybrid EV, plug-in hybrid EV, fuel cell EV, hingga flexy engine dengan bio fuel salah satu contohnya.
Kembangkan Pendekatan Triple Helix
Sejalan dengan itu, Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) juga tengah menerapkan upaya yang sama. Pendekatan yang dilakukan adalah dengan mengkolaborasikan tiga aspek terpenting di dalam ekosistem: industri, pemerintah, dan perguruan tinggi.
Toyota Corolla Cross Hybrid
Presiden Direktur PT TMMIN Warih Andang Tjahjono menjelaskan konsep tersebut dinamakan kolaborasi triple helix. Dirinya meyakini, untuk mewujudkan pengembangan kendaraan elektrifikasi, melibatkan seluruh stakeholder industri otomotif. Mulai dari pemangku kebijakan, pelaku bisnis, akademisi, dan masyarakat umum yang membutuhkan edukasi untuk mewujudkan ekosistem EV.
"Kami sadar sebagai pelaku industri harus mengambil peran aktif dengan kontribusi sebesar-besarnya dalam era net zero emission. Pertama kami kembangkan produk ramah lingkungan dengan multipathway approach untuk menyiapkan semua teknologi elektrifikasi, agar le depan bisa menjawab semua tantangan bukan hanya di Indonesia tapi juga seluruh dunia," jelasnya di Seminar Nasional: Realizing Indonesia Net Zero Emission di Semarang, Rabu (25/5).
Toyota Mirai FCEV berdaya hidrogen
Ketiganya dibutuhkan sebagai langkah strategis mewujudkan misi besar demi hajat hidup orang banyak. Kolaborasi pemerintah dengan industri dapat merumuskan peta jalan. Ditambah peran perguruan tinggi, dapat terlebih dulu dilakukan riset dan studi, serta pandangan ekonomi dan bisnisnya sehingga mencapai regulasi yang tepat.
Setelah terwujud, industri kemudian mengambil peran lagi dengan mewujudkan proses fabrikasi kendaraan listrik dari hulu hingga hilir yang lebih ramah lingkungan atau dikenal green manufacturing, dengan mengeliminasi atau meminimalisir dampak lingkungan yang dihasilkan dari seluruh mata rantai kegiatan bisnis.
"Kami yakin dengan melibatkan stakeholder industri otomotif akan dapat cepat terakselerasi. Semua negara berlomba menetapkan era elektrifikasi di 2030, kira-kira 8 tahun lagi dan ini bukan waktu yang panjang. Mari wujudkan agar semua orang punya kesempatan yang sama menurunkan emisi karbon, no one left behind!" tuntasnya.